Postingan

RAMA SHINTA "The True-Love"

Adaptasi Naskah dan Sutradara: Asa Jatmiko, yang dipersembahkan buat t.t. SCENE 1 Setting: Pagelaran Kraton Mantili TARIAN ARAK-ARAKAN MASUKNYA PRABU JANAKA KE PANGGUNG. KEMUDIAN NAMPAK 2 PRAJURIT MEMBAWA GENDEWA RAKSASA, DI BELAKANGNYA BERJALAN SHINTA, KEMUDIAN PRABU JANAKA YANG BERJALAN BERDAMPINGAN DENGAN PERMAISURINYA. GENDEWA RAKSASA DILETAKAN DI STAGE TERTINGGI YANG TERLETAK DI BELAKANG. PRABU JANAKA DAN PERMAISURI MENEMPATI TEMPATNYA, DEMIKIAN JUGA SHINTA. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SEORANG MENTERI BERJALAN MENDEKAT DAN MENGHORMAT. LALU DENGAN TANGANNYA, PRABU JANAKA MEMPERSILAKAN MENTERI TERSEBUT UNTUK BERBICARA KEPADA KHALAYAK. SANG MENTERI MENUJU TENGAH, LALU MEMBUKA LEMBARAN KAIN BERTULISKAN SABDA PRABU JANAKA TENTANG SAYEMBARA. MENTERI Atas perkenan Paduka Prabu Janaka, Sang Penguasa Tunggal Kerajaan Mantili, saya akan membacakan Pengumumam Sayembara. Sayembara ini sangat adi dan penting nilainya bagi kita semua, terutama karena menyangkut kelangsungan dan kejayaan Ke...
tahukah kamu, perjalanan cinta betapa berliku karena rupanya ia bukan rasa yang mati dan beku ia hidup, bertumbuh. mengakar dan berkembang. maka ia butuh udara, makanan dan usapan kasihsayang. jika tidak, tak usah buruburu menamakannya cinta anggaplah saja ia setangkai kembang saat kamu petik indah dipandang dan layu sesaat kemudian.

Gemuruh Laut

- pro thomas budi santoso laguku mendesis di sela pucuk pucuk gerimis kala tubuh terhempas membuih dan pecah di pantai habislah aku di sini; membangkai lalu lagumu menjamahku selembut lidah gelombang dan kudengar gemuruh lautmu di kejauhan memanggil memanggil merengkuhku ke dalam pelukan laut dan gemuruh sepasang kekasih yang selalu bercinta begitu pun hidup dan kerja seperti melodiusmu saat itu. Kudus, 2002

Sesempurna Kemenangan

Matahari pelan mendengkur bersiap bangkit Kemenangan dan kemenangan kemarin belumlah kemenangan yang sempurna. Angin yang masih basah karena airmata rumputan masih menggelayut, enggan pergi, merajuk di ketiak daunan “Kita sudahi saja kesedihan ini,” bisik sebatang ranting seolah tak ingin larut dan terperosok di palung hening lagi ia berbisik, “enyahlah airmata!” kata ranting lainnya, “sebelum datang kekalahan berikutnya!” dan sunyi membungkus perbicangan semua tahu kekalahan tadi siang teramat menyakitkan. Tak akan ada yang kita sisakan sedikit pun Semua kita tanggalkan bersamaan detik yang mengerjap Bahkan keindahan yang baru saja tercipta Bahkan kebaikan yang baru saja kita terima Bahkan prestasi yang baru saja kita raih Lepas saja, sebagaimana daun tanggal dari ranting Seperti saat menghirup udara dan menghembuskannya Menerima dan kehilangan sebagai kewajaran biasa. Lalu langit merengkuh mereka, sebab tak lagi terdengar suara Seperti degup jantung yang tak te...

Jalan Cinta

akhirnya aku menjumpaimu di sini di antara wangi kenanga dan warna biru berkubang dalam satu gerabah sebentar berhenti dari perjalanan yang rumit dan kita telah meronce semua itu menjadi perhiasan sanggulmu dan jemariku cinta bukanlah sekadar sajak, kekasihku bahkan bukan keindahan itu sendiri di dalam satu gerabah kita bertukar jawab dengan jujur aku menjumpai huruf yang tercipta di hatimu kamu pun akan tahu betapa ringkihnya aku di sini kita beradu rasa cemas karena kenyataan memang lebih menyakitkan turunlah, kutunggu kamu di sini berkubang dalam satu gerabah agar kita tahu pantaskah kita bernama cinta Kekasihku, meski cintaku sederhana, tapi sejati selamanya.

Beberapa Sajak dari "Pertarungan Hidup Mati" Asa Jatmiko

DO'A SEEKOR PRENJAK Ya Tuhan, Yayangku. sebagai seekor prenjak yang binal aku tak ingin bertengger di tangan juga tak mau hanya berpeluk di dada aku mesti terangsang dan birahi aku mesti kian gila jatuh cinta maka pintaku cuma satu biarkan aku bersarang di jembut-Mu milik-Mu paling rahasia milik-Mu paling rahasia disitu Kau punya acara pribadi disitu Kau punya privasi karena apabila semua itu tak terjadi apalah guna aku Kau cintai akulah prenjak yang sendiri maka di jembut-Mu aku berseru; perkosalah aku, Yayangku! atau kupotong kontholku?!! (Bukit Jati, '99) ENGKAU LEMPAR BATU, AIR PUN BERPENDARAN dan kita pun kepingin menuruni bukit itu meski tanah begitu renyah berguguran bagai dua anak ayam, lari-hilang dan muncul lagi dari balik rerimbunan melewati satu dua pohon jati yang mulai ranggas secepat itu waktu bergegas menyeret musim demi musim hingga akhirnya kita sampai di bibir sungai ini sebagai air dan batu kali engkau melempar batu dan air...

Soneta Malaikat Cinta

jika kamu sedang tak rindu nikmatilah semua waktumu dan jika tahutahu kau tersesat, jauh dariku kamu akan tahu kapan kamu panggilpanggil namaku jika kamu sedang bercumbu dengannya ingatlah bagaimana aku nakal dan bergairah saat aku menciumi tangan dan pipimu hingga kamu seolah meladeninya tanpa ragu jika kamu mengasihiku kenangkan saat kamu kecewa padaku sebab aku tak pernah lari meninggalkanmu. aku tetap di sini karena haruslah terjadi: kamulah kekasihku sejati. 301213