Postingan

Menampilkan postingan dengan label Artikel

Seribu Penyair, Nol Puisi

Semenjak peluncuran buku puisi "Bayang-bayang Menara" oleh KPK pada Minggu, 20 Maret 2016 di Universitas Muria Kudus, saya mulai bertanya di dalam hati, para sastrawan Kudus terus-menerus dan tiada henti berkarya kecuali mereka yang muda. Dimanakah mereka? Atau kita secara tidak sadar telah abai terhadap regenerasi, menyambut bibit-bibit sastrawan muda bertumbuh? Atau di Kudus hari ini, memang benar-benar "tidak ada" mereka? Aduh, judul buku "Bayang-bayang Menara" seolah-olah memperjelas keberadaan para sastrawan muda (saya menyebut sastrawan untuk menyebut penulis karya sastra baik laki-laki maupun perempuan), yang semakin hanya bayang-bayang. Bayang-bayang siapa? Entah. Mungkin bayang-bayang dari nama-nama besar, seperti: Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, Jimat Kalimasada, Thomas Budhi Santoso, dan nama-nama lainnya. Atau mungkin bayang-bayang atas "kemegahan Kudus" yang sudah kesuwur sehingga melenakan proses kreatif bersastra b...

Tentang "Berteater itu Keren"

Gambar
Wawancara dengan Asa Jatmiko Asa Jatmiko Berteater itu Keren Seperti yang kita ketahui, bahwa akhir-akhir ini kita sering menemukan tag pada media sosial yang bertuliskan #berteateritukeren. Ia hadir menghiasi ruang baca media sosial kita. Dan pada satu momen pelaksanaan Festival Teater Pelajar (FTP) 2016 lalu, jargon tersebut benar-benar tumpah ruah. Setiap orang menyerukan jargon tersebut pada sesi-sesi tertentu pelaksanaan FTP 2016. Ada satu pertanyaan yang menggelitik kita. Yaitu siapakah yang pertama kali memunculkan jargon tersebut. Dan tentunya ia mempunyai alasan. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, maka saya mencoba untuk menelusurinya. Salah satunya adalah mengadakan beberapa kunjungan ke penggiat teater di Kudus. Berikut kutipan percakapan saya dengan Asa Jatmiko. Dia adalah seorang penggiat teater di Kudus, yang aktif di Teater Djarum dan Njawa Teater. T.   Selamat malam, mas Asa. Perkenalkan, nama saya M. Elang Iswara. Saya sekolah di SMK Farmasi DUTA KARYA. Sek...

Jazz adalah “make somebody happy”

Java Jazz Festival 2015; 6, 7 dan 8 Maret 2015 Jazz adalah “make somebody happy” oleh Asa Jatmiko Tidak ada definisi yang pasti dan menjadi pegangan bagi kritikus musik sekalipun mengenai Jazz. Ada yang mengatakan bahwa jazz adalah musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad 20 dengan akar-akar musik Afrika dan Eropa. Ada juga yang mengatakan bahwa jazz adalah spontanitas dan vitalitas produksi musik dimana improvisasi memainkan peran penting. Ada juga yang mengatakan, kemerduan dan pengungkapannya mencerminkan bagaimana individualitas musisinya. Musisi jazz biasanya mengekspresikan perasaannya yang tak mudah dijelaskan, karena musik ini harus dirasakan dalam hati. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu” begitu menurut Louis Armstrong. Musik yang banyak menggunakan gitar, trombon, piano, trompet, dan saksofon ini didominasi dengan sinkopasi. Yakni penekanan atau aksentuasi pada not-not upbeat (not-not dengan ketukan lemah). Jakarta International Ja...