Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Surat Cinta untuk Saudara Tua

SURAT CINTA UNTUK SAUDARA TUA  Kau terlebih dulu ada Sebagai saudara tua yang setia Kau terlebih dulu berada di sini Siang malam diam-diam menanti Matahari dan Bintang menemani Hingga bunga-bungamu bermekaran Menjadi buah-buah yang ranum  Dan tersaji pada saatnya nanti “Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji.” Kau terlebih dulu bangun dan beranjak ke dapur Membuka katup-katup klorofil, sepagi itu tungku-tungku menyala “Aku tidak ingin melewatkan peristiwa-peristiwa penting, Saat nanti berjumpa denganmu, Saat kamu berkisah tentang perjalananmu yang melelahkan, Saat oku mendengar kemenangan-kemenanganmu.” Ah, aku tidaklah sehebat yang kau sangka Hidupku melata, selalu di bawah dan tak berjarak dengan tanah Terperosok dalam gelap sejak tahun-tahun pertama Tapi kau baik luar biasa Tetap menerimaku sebagai saudara Kau menyuapi bibirku yang berdara...

Satu Muara

Asa Jatmiko SATU MUARA Serayu - Klawing Karena kekalahan pun menuntut bebungah maka biar pun aku sudah tak sanggup lagi melangkah aku persembahkan jiwaku menjadi lingga di sini agar kamu tahu, tak ada lagi dendamku kepadamu Akhirnya aku berbelok dan bertaut di lembah ini memilih yonni yang rimbun oleh waru-waru doyong muara penenang anak cucu kita, berabad selanjutnya biar pun sesudah ini aku hanya tugu datanglah kemari setiap saat kalian punya rindu Kang, kemenangan pun butuh diluruhkan aku wanodya yang ingin kau tegak bagai tugu kubawakan kemenanganku dalam kekalahanmu di sini, kita mesti berhenti beradu dan bertikai mengalirlah bersama menuju satu muara 2020

Anak Serayu Ibu

Asa Jatmiko ANAK SERAYU IBU Cah, semalam di pedangan aku mendengar suara kemleset seperti suara air melewati daun-daun rumput yang menuju blumbang tapi sepertinya bukan air tubuhnya licin melata di antara gendhéng dan empyan sesekali terdengar kemretak lalu tak terdengar lagi sesaat sebelum subuh Cah, sudah tidurkah kamu? kamu dengarkah suara dari balik gunung meraung-raung sepanjang hari? berhentilah pegang hape nonton tivi sebaiknya lekaslah kamu pergi Biyung, sebenarnya aku tak akan pulang sebelum membawa serantang kisah masa depan tapi malam iniaku terpaksa kembali rumah kita blabur ular berbisa penuh belet di seluruh ruang dan tiap sudutnya. Biyung, kamu mengungsi kemana? 2020

Agni Prajnaparamita

Asa Jatmiko AGNI PRAJNAPARAMITA bumi di sudut sunyi pijar sukma jari-jemarinya doa agni prajnaparamita terlukis cahaya selembar hidup, terang tanpa cela hamparan putih nan sederhana yang merangkum keluasan semesta sebagaimana awalnya kamu ada jiwamu jagat kecil yang sempurna namamu adalah legenda puncak peradaban atas kehidupanmu menulis urup menjadi urip titik demi titik dalam gairah cinta menjadikan urip yang urup garis demi garis merangkai kisah aku tahu, tentu hidup tak semudah kita bicara gelegak kehendak yang terendam dalam canting tembaga harus selaras dengan arah cinta dan kerinduan melukis keindahan sebagai cahaya penuh warna hati dan kebajikan meneduhkan matamu mengarahkan jari-jemarimu di setiap goresan aku tahu, perjalanan hidup selalu tak sempurna namun kita selalu berusaha menjangkau adi kodrati hingga elok nan indah lembaran hidup dan kisah yang tergelar di selembar kain mori kehidupan awal yang sekalig...

Sembilan Puisi

Asa Jatmiko Sembilan Puisi SATU Mata yang binar dan mata berairmata Mengisyaratkan satu nilai yang sama: aku istimewa, dan kamulah bintangnya. DUA Kamu tak perlu menjadi malaikat. Buatku kamu sudah malaikatku yang memeluk kita dengan hangat. TIGA Bulan, dekatlah bulan Biar kudekap dan resahmu lenyap. EMPAT Hujan, kamu ditunggu romantisnya. LIMA Kadang aku bertanya untuk apa berdoa. Tuhan tahu apa yang kuminta. Kadang aku berdoa hanya untuk memastikan hati Tuhan tak pernah meninggalkan. ENAM Kutunggu kamu, dan kutemani Kita akan berkarya bersama lagi. TUJUH Aku ingin menulis panjang tentang desahmu di dadaku semalam Aku ingin ada bersamamu, sedekat nafasmu bernyanyi dan berdoa seirama detak jantung. Aku ingin menulis panjang tentang semua keinginan membahagiakan. Aku ingin berabad-abad menulis panjang hanya tentang satu cinta dan kebahagiaan. DELAPAN ...

Pamflet Kretek

Asa Jatmiko PAMFLET KRETEK Kita telah mendengar bunyi kemretek Dari batang demi batang rokok kretek kita Di telinga. Berabad-abad lamanya Dan kita masih tak berdaya untuk lantang bersuara Ratusan ribu hektar ladang tembakau digusur Diganti lamtoro, ketela, jagung dan sayur-mayur Atas nama swasembada pangan dan kemakmuran Sementara harga-harga sembako semakin tinggi Tembakau yang berakar di tanah para petani Dibiarkan terlantar dan mati Karena harus menanam apa yang mereka tidak mengerti Bagi para petani, tembakau bagai anaknya sendiri Dimana mereka menghendaki lahir dan hidupnya Dimana mereka susui dengan kasih sayang Dimana mereka paling memahami bagaimana menjaga mandat dan warisan moyang tetap lestari Kita telah mendengar bunyi kemretek Dari batang demi batang rokok kretek kita Dalam setiap perbincangan dan malam sunyi Setiap ingat wajah kekasih yang tengah berjuang Tapi kita masih tak berdaya untuk lantang berkata ...

Dalam Gerbong Kereta

Gambar
Sajak ini saya bacakan untuk pertama kalinya, pada 25 Agustus 2017, di depan teman-teman dan para santri di Teater Teasa - MA SALAFIYAH, Pati. Kemudian saya bacakan kembali di depan para pemuda OMK serayon Pati pada malam berikutnya (26/8) di Balaibudaya Rejosari. Asa Jatmiko DALAM GERBONG KERETA Kemana saja kita selama ini? Menjadi penyair yang bersajak anggur dan rembulan? Menjadi politisi yang berorasi demi tahta dan mahkota? Menjadi ulama yang berkhotbah atas nama jubah? Menjadi seniman yang tiap hari ke salon untuk rambutnya yang gondrong? Menjadi guru yang selalu lupa mengabsensi muridnya? Menjadi pemuda yang sibuk dengan pacarpacarnya? Kemana saja kita selama ini? Gerbong kereta Indonesia melaju tak terkendali di atas rel yang tak seirama Masinisnya telah mati terbunuh di perempatan reformasi Para kondekturnya mabok di sudutsudut gerbong mereka bergoyang pantura hingga lupa dadanya telah terbuka wudelnya bodong nodong kemanamana mulutnya penuh uang saweran...

Angkatan Darurat

ANGKATAN DARURAT Sajak Asa Jatmiko 32 tahun masa gelap 18 tahun gegap gempita tanpa cahaya Hari ini kita adalah angkatan darurat Yang dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Jiwajiwa yang lumpuh Memandang rendah orang lain Jiwajiwa yang terbelah Menganggap orang lain tak ada gunanya. Rumah tak lagi ramah Berubah menjadi sarang srigala Ketika pintu dibuka, ia makan apa saja Makan siapa saja Seolah hidup bagi dirinya saja Seolah hidup hanya hari ini saja Srigala merobek keheningan Menjadi tangis dan teriakan hampa. Hari ini kita adalah angkatan darurat Barisan yang dipenuhi ketakutan Legiun yang dihasilkan dari kemunafikan masa lalu Laskar yang mematikan, bagi masa depan. Seragamnya usus memburai dari perut luka Tangannya baja hitam berkuku tajam Otaknya tabung gaz yang siap meledak Tersulut dengan mudahnya Bahkan tak perlu tahu untuk apa. Hari ini kita adalah angkatan darurat Dengan lengan penuh bintik merah jarumjarum suntik Kita merasa kuat meskipun sesun...

Epilog

-bersama Ibe Jika dekat itu ukurannya jarak Sesungguhnya kita semua berjarak Tetapi dekat adalah ungkapan rasa Menjadikannya terasa selalu ada Juga tentang makna kehilangan Itu pun tak ada dalam kamus kehidupan Kita semualah yang justru mendapatkan Sebentuk kasih-indah mencerahkan Bahwa kasih telah dilahirkan Bahwa kasih telah didewasakan Bahwa kasih telah diperjuangkan Bahwa kasihlah yang membawa kita Kepada kehidupan baru yang kekal Ada dan tiada, Semua adalah kehendak Bapa. Ada atau tiada, Tinggal bagaimana kita memaknainya. Jika dalam hidupnya membuat kita bahagia Maka bahagiakanlah ia di dalam hidup kita Hingga bagi kita, dia ada selama-lamanya. Kudus, 27 Nov 2014

Ibu

Gurat senyum yang tercipta dari doa-doamu sejak semula Selalu menggetarkan nurani kami untuk lebih memahami Mengapa engkau punya begitu banyak cinta di dalam rumah Mengapa engkau punya begitu banyak kasih di dalam hidup Engkau selalu menjadi arah ketika kami hendak terhempas Jika ada tempat berpulang, untuk sebuah rasa damai Ketika usai berperang dengan ego pribadi dan habis lunglai Engkaulah Ibu, di hatimu kami selalu kembali Hati yang selalu menularkan daya juang hidup kami Setiap kalah, gagal atau malu di wajah kami anak-anakmu Kau usap dengan hati penuh asih, teduh kata dan senyumanmu Pun bila tangan kami memetik kemenangan dan keberhasilan Kau menyempurnakannya dengan doa syukur dalam pelukan Ibu, Engkau seperti bumi, menerima segalanya dengan sukacita Hingga sulit bagi kami menemukanmu tengah berduka Seperti pagi dengan bunga, seperti senja dengan warna jingga Engkau sederhana, tetapi berkemilau cahaya di dalam jiwa Jika ada azimat am...

Kamulah Dia

-ibe hatinya bunga jiwanya bunda wajahnya embun bicaranya satu dia dari sorga dia dari sorga tubuhnya melati matanya matahari pipinya ngangeni dia seorang dewi dia seorang dewi 19022014

Setelah Pengakuan

dadanya telah kembali terasa ringan tiga detik setelah mengaku dosa sesaknya hilang udara berkesiur mengusap dagunya tapi tibatiba mual perutnya di detik berikutnya hingga lama tubuhnya bergetar terguncangguncang ia bakal menerima haknya; - hukuman dan dendadenda tapi ia semakin mencemaskan dirinya tibatiba ia akan kehilangan cinta yang selama ini didekapnya 18022014

Setelah Pengakuan

dadanya telah kembali terasa ringan tiga detik setelah mengaku dosa sesaknya hilang udara berkesiur mengusap dagunya tapi tibatiba mual perutnya di detik berikutnya hingga lama tubuhnya bergetar terguncangguncang ia bakal menerima haknya; - hukuman dan dendadenda tapi ia semakin mencemaskan dirinya tibatiba ia akan kehilangan cinta yang selama ini didekapnya 18022014

Kepergian

buah jeruk yang tergantunggantung telah kucuri di malam lapar aku jarang menyebutmu baik keabadian hanya mengabdi pada dirinya sendiri kau pun larut dan sibuk mengurus administrasi surgamu maka aku mencurinya agar kau sesekali datang padaku. sore ini kau benarbenar datang tetapi untuk pergi ke tempat yang kau sebut abadi sore ini kau benarbenar pergi tetapi tidak untuk kembali kau pergi ke tempat yang kau ingini sore ini aku terjerembab sepi aku pernah bersamamu mengajariku melukis masa depan dan tak pernah kuperhatikan sore ini aku terjerembab sepi kepada siapa aku akan bertanya dimana tempat abadi tempat Kasih sejati bercahaya. 14022014

Hujan Debu

sungai air mata luber ke jalanjalan kota rembes di kain jarik bunda debu air mata menghujan di kampung halaman menghitam di caping bapa ampunilah kami ampunilah kami tangis ini belum juga berhenti nyusup di antara hujan debu memohon lindunganMU 14022014

Gemuruh Laut

- pro thomas budi santoso laguku mendesis di sela pucuk pucuk gerimis kala tubuh terhempas membuih dan pecah di pantai habislah aku di sini; membangkai lalu lagumu menjamahku selembut lidah gelombang dan kudengar gemuruh lautmu di kejauhan memanggil memanggil merengkuhku ke dalam pelukan laut dan gemuruh sepasang kekasih yang selalu bercinta begitu pun hidup dan kerja seperti melodiusmu saat itu. Kudus, 2002

Sesempurna Kemenangan

Matahari pelan mendengkur bersiap bangkit Kemenangan dan kemenangan kemarin belumlah kemenangan yang sempurna. Angin yang masih basah karena airmata rumputan masih menggelayut, enggan pergi, merajuk di ketiak daunan “Kita sudahi saja kesedihan ini,” bisik sebatang ranting seolah tak ingin larut dan terperosok di palung hening lagi ia berbisik, “enyahlah airmata!” kata ranting lainnya, “sebelum datang kekalahan berikutnya!” dan sunyi membungkus perbicangan semua tahu kekalahan tadi siang teramat menyakitkan. Tak akan ada yang kita sisakan sedikit pun Semua kita tanggalkan bersamaan detik yang mengerjap Bahkan keindahan yang baru saja tercipta Bahkan kebaikan yang baru saja kita terima Bahkan prestasi yang baru saja kita raih Lepas saja, sebagaimana daun tanggal dari ranting Seperti saat menghirup udara dan menghembuskannya Menerima dan kehilangan sebagai kewajaran biasa. Lalu langit merengkuh mereka, sebab tak lagi terdengar suara Seperti degup jantung yang tak te...

Jalan Cinta

akhirnya aku menjumpaimu di sini di antara wangi kenanga dan warna biru berkubang dalam satu gerabah sebentar berhenti dari perjalanan yang rumit dan kita telah meronce semua itu menjadi perhiasan sanggulmu dan jemariku cinta bukanlah sekadar sajak, kekasihku bahkan bukan keindahan itu sendiri di dalam satu gerabah kita bertukar jawab dengan jujur aku menjumpai huruf yang tercipta di hatimu kamu pun akan tahu betapa ringkihnya aku di sini kita beradu rasa cemas karena kenyataan memang lebih menyakitkan turunlah, kutunggu kamu di sini berkubang dalam satu gerabah agar kita tahu pantaskah kita bernama cinta Kekasihku, meski cintaku sederhana, tapi sejati selamanya.

Beberapa Sajak dari "Pertarungan Hidup Mati" Asa Jatmiko

DO'A SEEKOR PRENJAK Ya Tuhan, Yayangku. sebagai seekor prenjak yang binal aku tak ingin bertengger di tangan juga tak mau hanya berpeluk di dada aku mesti terangsang dan birahi aku mesti kian gila jatuh cinta maka pintaku cuma satu biarkan aku bersarang di jembut-Mu milik-Mu paling rahasia milik-Mu paling rahasia disitu Kau punya acara pribadi disitu Kau punya privasi karena apabila semua itu tak terjadi apalah guna aku Kau cintai akulah prenjak yang sendiri maka di jembut-Mu aku berseru; perkosalah aku, Yayangku! atau kupotong kontholku?!! (Bukit Jati, '99) ENGKAU LEMPAR BATU, AIR PUN BERPENDARAN dan kita pun kepingin menuruni bukit itu meski tanah begitu renyah berguguran bagai dua anak ayam, lari-hilang dan muncul lagi dari balik rerimbunan melewati satu dua pohon jati yang mulai ranggas secepat itu waktu bergegas menyeret musim demi musim hingga akhirnya kita sampai di bibir sungai ini sebagai air dan batu kali engkau melempar batu dan air...

Soneta Malaikat Cinta

jika kamu sedang tak rindu nikmatilah semua waktumu dan jika tahutahu kau tersesat, jauh dariku kamu akan tahu kapan kamu panggilpanggil namaku jika kamu sedang bercumbu dengannya ingatlah bagaimana aku nakal dan bergairah saat aku menciumi tangan dan pipimu hingga kamu seolah meladeninya tanpa ragu jika kamu mengasihiku kenangkan saat kamu kecewa padaku sebab aku tak pernah lari meninggalkanmu. aku tetap di sini karena haruslah terjadi: kamulah kekasihku sejati. 301213