secangkir kopi yang hambar
beberapa kalimat yang tak selesai
dan aku tersembunyi di bawah trembesi
bersama serpih matahari
aku datang, memenuhi janjiku sendiri
untuk menunggu yang tak pasti.
pagi yang cerah berganti gerah
kamu di lipatan waktu di balik pintu itu
menahan rindu
dan bersama serpih matahari yang sama
melarutkannya dalam buku agenda.
daun yang jatuh ke pangkuanku
terhempas angin rindu
atau terlepas oleh karena ia mau
aku gundah membaca relief prambanan
kiranya aku belumlah seberapa
untuk ngotot membela hatiku sendiri.
lalu kuteguk sekali lagi
secangkir kopi yang hambar
meneguk rindu yang tak sampai.
"aku pulang ya"
kutunggu kau di ujung ngarai
tempat kita berdamai
bersama selamanya.
kudus, 291213

Tidak ada komentar:
Posting Komentar