Seribu Penyair, Nol Puisi
Semenjak peluncuran buku puisi "Bayang-bayang Menara" oleh KPK pada Minggu, 20 Maret 2016 di Universitas Muria Kudus, saya mulai bertanya di dalam hati, para sastrawan Kudus terus-menerus dan tiada henti berkarya kecuali mereka yang muda. Dimanakah mereka? Atau kita secara tidak sadar telah abai terhadap regenerasi, menyambut bibit-bibit sastrawan muda bertumbuh? Atau di Kudus hari ini, memang benar-benar "tidak ada" mereka? Aduh, judul buku "Bayang-bayang Menara" seolah-olah memperjelas keberadaan para sastrawan muda (saya menyebut sastrawan untuk menyebut penulis karya sastra baik laki-laki maupun perempuan), yang semakin hanya bayang-bayang. Bayang-bayang siapa? Entah. Mungkin bayang-bayang dari nama-nama besar, seperti: Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, Jimat Kalimasada, Thomas Budhi Santoso, dan nama-nama lainnya. Atau mungkin bayang-bayang atas "kemegahan Kudus" yang sudah kesuwur sehingga melenakan proses kreatif bersastra b...